Posted by: g1mg1m | October 10, 2008

Hilangkan budaya “nrimo”

Wong Jowo

Wong Jowo

Aku sempet kecewa dilahirkan sebagai orang Jawa yang kental dengan budaya “nrimo” alias budaya yang senantiasa menerima keadaan yang ada di diri kita. Aku sering merasa sulit untuk menggapai apa yang ingin dicapai, karena selalu merasa jauh dari sana dan sekali lagi budaya “nrimo” membuatku selalu berkata “yo wis, klo ndak dapet yo ndak popo, santai wae”. Tapi itu adalah dulu, dimana aku masih blm mengerti akan kekuatan dari sebuah inspirasi dan mimpi.

Budaya “nrimo” ini sebenarnya klo kita otak-atik diakibatkan oleh zaman penjajahan Belanda dari dulu, dimana setiap kali mimpi kita untuk merdeka dan hidup mandiri selalu dapat dikubur dan dibunuh oleh mereka. Inspirator2 perjuangan ditangkap dan dihukum mati, lambat laun akhirnya orang jawa ketika itu lebih senang untuk bekerja di bawah Belanda sehingga mereka tidak merasa dijajah dan terbebas dari hukuman mati. Dari perilaku ini, semakin lama memunculkan budaya “nrimo” dan menjadi melekat secara turun temurun. 

Fakta terkuak kekita aku berlebaran di kampung halamanku di surabaya, sebagian besar kerabat dan tetangga adalah warga negara korban krisis moneter tahun 1998 yang membuat mereka hinggi kini belum mendapatkan pekerjaan. Klo aku inget2, setelah mendapatkan surat berharga sepanjang hidupnya (surat PHK), mereka bener2 merasa bahwa itu adalah bagian dari nasib mereka. Dan bener2 nrimo untuk tidak berusaha mencari jalan keluar dengan sungguh2. Yang mereka lakukan hanya mengajukan surat lamaran dan berharap ada perusahaan yang mw menampung mereka. Dengan bertambahnya usia, otomatis tenaga mereka kalah dibanding dengan yang muda2.

Untungnya aku memiliki seorang Ayah yang luar biasa. Ketika terjadi krisis, beliau memutuskan untuk berdagang dan keluar dari pabriknya sebelum mendapat surat berharga itu. Dari situ aku belajar dari nya. Sebuah keputusan yang diambil dengan sangat tepat saat itu. Beliau seakan-akan memberitahukan dan mencatat kalimat besar-besar di tembok rumah dengan tulisan “Hilangkan Nrimo, Ayo kita bekerja keras”. 

Suku apapun kita, jangan pernah merasakan kekecewaan ketika lahir di dunia, karena nasib kita bukan ditentukan oleh budaya yang melekat, tapi bagaimana kita menilai budaya mana yang tepat dan baik untuk dilakukan serta bagaimana kita berjuang menghadapi hidup.

About these ads

Responses

  1. hmm very inspiring..

  2. BENAR! AYO KERJA KERAS! jangan malas..

    aku juga orang jawa lho, turunan Surabaya pula.. gyahaha…

    aseeeek, fotonya udah nambah nih?? hehehe

    ^_^

    hey, this saturday,accenture will come to Bandung, in occasion for itb titian karir days, and fortunately i also invited to have lunch with them in Sheraton, are you also in??

  3. Hoho…Congratz…Unfortunately, I think, I’m not coming. Ready for collecting informations ?

  4. enggak semua hal yang negatif adalah negatif…kita bisa tahu itu positif karena negatif…bagi saya budaya nrimo bisa postif jika ditempatkan dalam tatanan pikiran berbeda.dari sisi lain, budaya nrimo itu baik lho….kita liat saat ini, banyak caleg, cagub, capres, yang nggak mau belajar nerima kekalahan! budaya nrimo dalam hal ini, bermanfaat..dengan mengakui kekalahan, kemudian dilanjutkan dengan mendukung yang menang, dan melakukan yang lebih baik untuk masyarakat lainnya….makanya…suatu hal yang negatif dari nrimo pada dasarnya mampu melahirkan hal-hal yang positif…..
    pintar2nya belajar dari semua hal….
    tq

  5. klo aq sbg orang jawa sering dikritik karena susah ngomong ‘tidak’…
    pdhl dah berkali2 kena masalah krn ga mau ngomong ‘tidak’ dr awal… :(
    untung sekarang udah ga kayak gt lagi.. mantan presidenmu yg suka nyemangatin bwt ngmg ‘tidak’.. :D

  6. Emang teman gw ini ga pernah berhenti utk menjadi lebih baik. I believe one day u’ll become the best motivator in Indonesia…

  7. itu karena pengertian kita atas falsafah nrimo itu salah kaprah..makanya ‘laku urip’ nya pun jadi salah kaprah. Nrimo itu bukan berarti pasrah..bukan berarti pasif dan nyerah sama nasib. Nrimo itu sebenernya sikap tabah, tidak mengeluh, tidak menghujat dan menyalahkan siapapun (termasuk Tuhan), seringkali kan kita dihadapkan pada situasi buruk atau kurang beruntung lantas dalam hati muncul dendam, benci dan cenderung menyalahkan (keadaan, diri sendiri atau seringkali nunjuk orang lain) nah…nerimo tidak seperti itu…dalam kata ‘Nrimo’ ada wisdom of kebijaksanaan, keikhlasan dan kesatriaan tanpa dendam tanpa prejudice, supaya bisa berpikir dan berhati jernih guna melangkah kedepan dengan budi yang positif sehingga langkah berikutnya yg diambil tidak berdampak buruk bagi diri, orang lain dan alam semesta. Dalam jaman sekarang ini…adakah orang yg masih bisa laku nrimo kayak gitu? Lha..makanya…nilai-nilai jawa sengaja dimarginalkan demi kepentingan penjajah baru yang ada di bumi nusantara ini…Sayang sekali…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: