Posted by: g1mg1m | February 20, 2008

Apa yang salah ?

Waktu itu, 4 1/2 tahun yang lalu, ketika ikut bimbingan belajar SSC di surabaya, salah satu tutornya cerita di depan kelas. Dia ngomongin salah satu alumni SSC yang saat itu sudah lulus dari kuliah S1nya dan bekerja di perusahaan schlumberger dengan gaji 20jt/bulan. Dengan wajah yang bersemangat, dia membagikan cerita itu ke gw. Bahkan tidak bisa dipungkiri dia seperti menaruh mimpi itu ke semua orang yang mendengar. Salah satu orang yang bener2 tersirih dengan hal itu adalah gw. Gw bener2 ngerasa kalo mimpi itu adalah jalan masa depan untuk membuat keluarga gw mempunyai keadaan yang lebih baik dari sekarang. Keadaan keluarga yang tercukupi meski tidak berlebihan yang jauh berbeda dengan keadaan yang sering serba kekurangan seperti sekarang. Sedih gw kalo selalu inget keadaan keluarga gw. Ngga tau kenapa ?.

Kalo gw pikirin terus, gw selalu inget pas berumur 8 tahun. Waktu itu gw pernah bantuin ibu gw buat nganterin hasil jahitan ke tetangga-tetangga. Trs pas 12 tahun juga pernah bantuin ngelipet2 kertas buat dijadiin buku trus baru ditimbang ke barongan (sejenis penyedia proyek gitu). Ya kehidupan gw bener2 standar sebuah keluarga yang berusaha hidup lebih baik di kota metropolitan surabaya.

Sehari setelah dapet cerita dari tutor, gw bener2 semangat. Dengan semangat itu, gw bener2 yakin kalo ITB adalah salah satu jalannya. Ngga heran ketika TPB (tingkat 1) gw memiliki semangat yang lebih dari tmn2 gw untuk mendapatkan nilai yang lebih bagus. Ketika tmn kosan gw santai ngga kuliah n maen game, gw bener2 serius belajar. Bahkan sudah menargetkan harus lulus dengan cumlaude suatu saat nanti. Dengan kata lain, waktu itu gw beranggepan prestasi bagus ketika kuliah = dapet kerja dengan gaji yang tinggi (perusahaan asing).

Memasuki tingkat 2 (tahun kedua), gw memutuskan untuk mulai aktif di organisasi di kampus. Berawal dari himpunan sampe ke kegiatan kemahasiswaan. Semakin aktif organisasi, semakin banyak pula gw mengetahui kondisi-kondisi yang ada. Mulai dari kondisi itb sampe kondisi Indonesia. Mulai masalah budaya sampe masalah pendidikan. Banyak banget. Gw mulai mengerti masalah2 yang ada di bangsa ini. Gw mulai sadar apa yang bisa gw lakukan meskipun itu langkah kecil. Dan gw mulai tau harus bagaimana. Sampai suatu saat, muncul pemikiran, kalo dengan tidak kerja untuk perusahaan asing, itu merupakan langkah kecil yang bisa dilakukan untuk membantu bangsa ini (meski sampe sekarang banyak perdebatan tentang ini).  Dan itu bener2 mempengaruhi gw.

Mungkin gw saat ini masih mencari jalan harus bagaimana. Dan pastinya gw harus membenturkan nilai idealisme dan realistis. Gw masih berharap untuk tetep bisa pegang teguh apa yang gw yakini dengan tetep bisa bantu keluarga gw yang bener2 harepin gw. Mudah2an ada jalan untuk ini semua. Amien.

Responses

Hmm.. Menarik, kak Budi bukan satu-satunya yang berpikiran soal hal itu, masih ada aku, dia dan mereka yang juga masih mencari jalan.

Ingin sedikit berbagi. Sejauh ini ada beberapa anggapan yang muncul dalam proses pencarian jalan itu.

Sempat berpikir praktis: Kalau aku kerja diperusahaan asing apa yang salah? Toh aku mendapat gaji dari hasil kerja keras ku bukan mencuri atau korupsi. Kalau ada hak orang lain dalam gajiku gimana? Dalam agamaku ada kewajiban berzakat yang salah satunya untuk membersihkan harta. hmmm… jadi kenapa tidak?

Mungkin jika aku bekerja di sebuah perusahaan x aku akan bekerja sebagaimana mestinya –mengolah limbah walau efluentnya masih tidak memenuhi baku mutu–, lalu mendapat gaji dan menghidupi keluarga, bahkan mampu membantu orang lain. Tapi kalo kerja sbgai abdi negara (PNS) mungkin aku harus membohongi rakyat , memanipulasi hasil audit lingkungan perusahaan x, memberitakan kabar palsu –bahwa perusahaan x sangat berkomitment menjaga kelestarian lingkungan lantaran di beri salam tempel.

Ya salah aku dong kenapa nerima salam tempel!! Mungkin saat ini aku bisa berkata seperti itu tapi nanti saat aku mempunyai kewajiban menghidupi keluarga…Siapa yang tau? Bukanya sejarah berulang? Yang tadinya aktivis pembela HAM kini jadi pembela newmont! Yang tadinya vokal kini bungkam saat duduk di pemerintahan.

Apakah dengan tidak bekerja di perusahaan asing merupakan langkah kecil membantu bangsa ini?
Arghh.. Sempat terpikir: kumpulkan saja kekayaan dari hasil bekeja di sana, lantas bangun negri ini. (pernah nonton oprah edisi apa ya? cerita ttg seorang karyawan microsoft yang sangat kaya kemudian memutuskan berhenti bekerja untuk membangun sekolah di pedalaman tibet dengan modal kekayaan nya). Tapi apakah upaya itu lebih berarti jika aku memutuskan untuk tidak bekerja diperusahaan asing?
Arrrrggghhh (lagi)

Akhirnya aku jadi berkesimpulan pilihan yang disodorkan hanya dua:
1. menjadi budak perusahaan asing atau
2. menjadi kaki tangan asing dengan topeng abdi negara
ughhh….

Tapi ternyata masih ada pilihan ke3 yang sangat ideal:
menjadi pemegang kebijakan negri ini!!! yang membuat agar Indonesia tidak lagi menjadi tuan rumah yang miskin,dan perusahaan asing tak lagi menjadi pembantu yang kaya.

hahaha…
hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan memiliki konseuensi…
hahah, tuh yang diajarin sy ketika di himafi, toh buat apa kawan, buat apa teman, buat apa sebuah tim dibangun dari saat ini,,,klo dimasa yang akan datang tidak saling mengingatkan, tidak saling membantu, dan tidak saling mengatakan bahwa mana mimpi kita dulu…dan semoga dengan kawan2 seperti itulah kita bisa sama2 berbagi, sama menguatkan, dan menjadi tim yang kuat dan membangun bangsa ini…semoga…
ancoolll, berat banget nih tumben kata2 sy…hehehe

Leave a response

Your response:

Categories